Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

vespa senior

vespa senior

camera 60D

camera 60D

Adobe After Effects

Selasa, 07 Mei 2013

Adobe After Effects adalah produk piranti lunak yang dikembangkan oleh Adobe, digunakan untuk film dan pos produksi pada video. pada awalnya merupakan sebuah software produk dari Macromedia yang sekarang sudah menjadi salah satu produk Adobe.
Adobe After Effects adalah sebuah software yang sangat profesional untuk kebutuhan Motion Graphic Design. Dengan perpaduan dari bermacam - macam software Design yang telah ada, Adobe After Effects menjadi salah satu software Design yang handal. Standart Effects yang mencapai sekitar 50 macam lebih, yang sangat bisa untuk mengubah dan menganimasikan obyek. Disamping itu, membuat animasi dengan Adobe After Effects, juga bisa dilakukan dengan hanya mengetikkan beberapa kode script yang biasa disebut Expression untuk menghasil pergerakan yang lebih dinamis.
Adobe After Effects memiliki fitur - fitur penting, misalnya Adobe After Effects memiliki alat untuk membuat Shape ( seperti yang terdapat pada Adobe Photoshop ). Pada Adobe After Effects terdapat Keyframe seperti yang terdapat pada Adobe Flash ( cara menganimasikannya juga hampir sama ). Terdapat juga Expression yang hampir mirip dengan Action Script pada Flash, dan masih banyak lagi yang lain.

Canon EOS M, Kamera Saku Sekelas DSLR




Canon EOS M.Kamera digital saku masa kini kualitasnya sudah bisa menandingi kamera DSLR. Tidak percaya? Coba tengok inovasi terbaru dari Canon, yaitu Canon EOS M.
Meskipun dari penampilannya tampak seperti kamera saku biasa, Canon EOS M – seperti terlihat dari namanya – sudah menyematkan teknologi EOS khas kamera DSLR Canon.
Dari segi bodi, ukurannya tergolong kecil. Tapi, Canon EOS M mengusung sensor besar APS-C (22,3 x 14,9mm) 18MP seperti yang terdapat di kamera DSLR EOS. Bila dibandingkan dengan kamera EOS 650D, Canon EOS M memiliki dimensi 59% lebih ramping, 33% lebih kecil, dan 55% lebih ringan.
EOS M juga dapat digunakan dengan lebih dari 60 pilihan jenis lensa EF dan EF-S yang tersedia di pasaran melalui bantuan adaptor. Sistem mirrorless pada kamera ini pun memungkinkan untuk memasukkan semua feature kamera DSLR ke dalam kamera EOS M yang berdimensi ringkas nan ringan.
Feature EOS M yang sangat membantu pengguna awam adalah Feature Guide yang menampilkan penjelasan pengaturan kamera. Sementara itu, sistem EOS Scene Analysis dan Auto Lighting Optimizer mampu mendeteksi secara otomatis berbagai macam jenis pencahayaan. Untuk pengambilan gambar dalam kondisi cahaya minim, Canon EOS M dilengkapi dengan fungsi HDR Backlight Compensation yang melakukan pengambilan gambar tiga kali berturut-turut untuk menghasilkan gambar optimal.
“Canon EOS M juga hadir dengan filter yang menarik dan kreatif seperti Grainy/Black and White, Soft Focus, Toy Camera, Miniature, Art Bold, Water Painting, hingga Fish-Eye effect,” ujar Sintra Wong  (Marketing Manager, Canon Image Communication Product Division, Datascrip).
Kamera ini dapat pula digunakan untuk syuting video dengan kualitas Full HD. Sensor APS-C dan prosesor DIGIC 5 memungkinkan EOS M syuting video dengan menggunakan ISO tinggi untuk menghasilkan video yang detail di setiap frame.
“Canon EOS M merupakan pilihan ideal bagi siapa saja yang mendambakan kualitas foto dan performa sekelas DSLR dengan ukuran kamera yang ringan dan ringkas,” ungkap Merry Harun (Canon  Division Director, Datascrip).

Semua tentang kamera DSLR Canon EOS

Bagi anda pecinta DSLR Canon, atau yang sedang merencanakan membeli sistem DSLR Canon, apakah anda sudah kenal seluk-beluk DSLR Canon? Bagaimana konsep EOS dan EF mount, seperti apa auto fokus di kamera Canon, apa beda lensa EF dan EF-S, dan masih banyak lagi. Kali ini kami buatkan sebuah artikel yang khusus membahas DSLR Canon EOS secara lengkap hanya untuk anda. Selamat membaca..
Asal mula kamera EOS
EOS adalah singkatan dari Electro Optical System yang berarti sistem optik yang memiliki rangkaian elektronik. Canon pertama kali memperkenalkan kamera film EOS pada bulan Maret 1987 dengan meluncurkan EOS 650 dengan kemampuan auto fokus. Kamera EOS memiliki mount EF, sehingga Canon mendesain lensa khusus untuk mount EF dengan nama lensa Canon EF, dan semua lensa EF ini pasti kompatibel dengan kamera EOS.
Kamera EOS Digital pertama dari Canon adalah EOS DSC 3 dengan sensor CCD 1,3 MP (kerjasama dengan Kodak) dan tahap penting dalam manufaktur EOS ada saat Canon akhirnya bisa memproduksi sendiri kamera EOS dengan meluncurkan EOS D30 pada tahun 2000 dengan sensor CMOS beresolusi 3 MP. Sebagai prosesor dari EOS Digital, digunakanlah prosesor dengan nama Digic yang kini sudah mencapai generasi ke empat.
fd_mount
Kamera Canon sebelum 1987 memiliki mount FD yang hanya cocok untuk lensa Canon FD. Lensa FD (lihat contoh di atas) hanya bisa manual fokus dan lensa FD ini tidak bisa dipasang di mount EOS karena berbeda bentuk dan ukuran. Hal ini berbeda dengan sistem Nikon dimana semua lensa Nikon sejak jaman dahulu masih bisa dipasang di DSLR Nikon terbaru.
Transisi dari mount FD ke mount EOS menjadi saat-saat bersejarah Canon yang penuh kritik dan terkesan spekulatif. Namun akhirnya kini Canon berhasil menikmati hasilnya karena transisi berjalan sukses dan Canon menebusnya dengan memproduksi banyak lensa khusus mount EF untuk sistem EOS Digital yang berkualitas.
Lensa EF dan EF-S
Lensa EF  (electrofocus) adalah lensa buatan Canon yang memiliki mount EF sehingga pasti kompatibel dengan kamera EOS. Lensa EF bisa dipasang di bodi SLR Canon EOS film (35mm) maupun di bodi EOS digital apapun, baik dengan sensor full frame, APS-H maupun APS-C. Lensa EF kini memiliki banyak varian baik jenis prime (fix) ataupun zoom. Bahkan lensa kelas mewah dari Canon juga banyak diproduksi yaitu lensa dengan kode L-series (luxury) yang memiliki ciri ada gelang merah di ujungnya. Lensa L series ini memiliki kualitas optik yang prima dan kemampuan menahan gangguan cuaca berkat adanya weathersealing didalamnya.
drebel
Pada tahun 2003 Canon meluncurkan DSLR EOS 300D (Digital Rebel) dengan lensa kit EF-S 18-55mm. Inilah pertama kalinya diperkenalkan lensa EF-S dalam sejarah Canon. Lensa EF-S memiliki diameter image circle yang lebih kecil dari lensa EF, didesain khusus untuk DSLR dengan sensor APS-C seperti EOS 50D atau 500D. Jadi kamera EOS Digital dengan sensor APS-C bisa saja dipasangi lensa EF (tidak harus lensa EF-S), tapi sebaliknya lensa EF-S tidak bisa dipasang di bodi DSLR full frame. Huruf ‘S’ pada kode EF-S sendiri adalah singkatan dari Short (back focus), maksudnya lensa EF-S memiliki jarak yang lebih dekat antara lensa dengan sensor.
Kini di pasaran tersedia banyak lensa EF dan juga EF-S. Bila anda berencana akan memiliki DSLR EOS dengan sensor full frame seperti EOS 5D mark II, maka carilah hanya lensa EF saja. Namun bila anda merasa cukup puas dengan DSLR EOS sensor APS-C seperti EOS 550D, EOS 60D atau EOS 7D (dan tidak berencana membeli DSLR full frame di masa mendatang), maka lensa EF-S bisa jadi pilihan untuk dibeli.
Sistem auto fokus kamera EOS
Pada prinsipnya auto fokus (AF) di kamera EOS memakai motor AF yang ada di lensa, dengan kata lain semua lensa Canon EF memiliki motor AF didalamnya. Hal ini berbeda dengan Nikon yang memiliki motor AF di bodi kamera (meski tidak semua DSLR Nikon punya motor AF), dengan kata lain tidak semua lensa Nikon punya motor AF (hanya lensa Nikon buatan sejak 1992 yang ada motor fokusnya, diberi kode AF-S). Namun Canon tidak memperlakukan setiap lensanya dengan sama, dimana lensa murah dan lensa mahal diberikan motor AF yang berbeda jenis dan kualitasnya.
Terdapat dua jenis motor di lensa Canon, yaitu :
  • motor AFD (arc-form drive) atau micromotor drive -> untuk lensa murah
  • motor USM (ultrasonic motor) -> untuk lensa mahal
usm-ring
Motor AFD merupakan motor mikro yang konvensional dan murah. Didalamnya terdapat koil magnet yang berputar bila dialiri tegangan listrik. Motor ini bersuara berisik saat sedang berputar dan kecepatannya pun sedang-sedang saja. Perhatikan kalau lensa Canon EF/EF-S yang tidak diberi label USM artinya motor di dalamnya memakai sistem AFD (bedakan dengan lensa Nikon AF-S yang pasti sudah memakai motor SWM).
Motor USM merupakan tekolonogi baru yang menggerakkan motor dengan gelombang yang memberikan kecepatan lebih tinggi namun dengan suara yang lebih halus. Namun lagi-lagi Canon membagi lensa dengan teknologi USM ini kedalam dua kelompok, yaitu lensa USM untuk lensa mahal dan USM untuk lensa yang biasa.
Adapun dua jenis motor USM di lensa Canon, yaitu :
  • USM berbasis ring untuk lensa mahal (lihat contoh gambar di atas)
  • USM berbasis micromotor untuk lensa yang lebih murah
Perbedaan keduanya ada di prinsip kerja dan kemampuan manual fokus instan (FTM : full-time manual). Pada lensa USM berbasis ring, kita bisa langsung memutar ring manual fokus kapan saja kita mau. Jadi berpindah dari auto fokus ke manual fokus bisa dilakukan langsung tanpa memindah tuas AF ke MF. Bila memakai lensa non USM atau lensa USM murah (dengan micromotor), kita harus memindahkan tuas AF ke MF baru memutar ring manual fokus.
Lensa dengan kode USM atau bukan tidak akan berpengaruh pada kualitas optik, karena USM hanya menandakan sistem kerja motor AF saja. Bila anda dalam keseharian sering memotret benda yang bergerak, atau ajang olah raga dan perlu kinerja tercepat dari sistem AF lensa Canon, maka pilihlah lensa dengan teknologi USM didalamnya.
Mode dial khas Canon
Canon EOS Digital memiliki mode dial yang tidak banyak berbeda dengan kebanyakan kamera DSLR lain. Terdapat satu mode Auto, lima mode kreatif dan beberapa preset untuk kondisi yang spesifik (basic zone atau scene mode). Sekilas penjelasan tentang mode kreatif yaitu :
eos-dial
  • P (Program) : seperti mode Auto tapi kita bisa beralih dari beberapa kombinasi aperture dan shutter yang mungkin
  • Tv (Shutter Priority) : kamera menentukan setting terbaik, sementara kita menentukan berapa kecepatan shutter yang akan digunakan
  • Av (Aperture Priority) : kebalikan dari Tv, kita menentukan bukaan diafragma sementara kamera mengatur kecepatan shutter yang sesuai
  • M (Manual) : kendali akan shutter dan aperture murni pada kita sebagai pemakai
  • A-DEP (Depth of Field/DoF Preview) : kamera akan memakai bukaan terkecil (stop down) untuk preview DoF (karena mengurangi cahaya yang masuk maka tampilan di viewfinder akan menjadi agak gelap).
Lampu kilat
Canon EOS memiliki sistem lampu kilat dengan teknologi E-TTL (Electronic Through-The-Lens). E-TTL sendiri merupakan proses pengukuran cahaya (metering) melalui lensa sehingga bisa ditentukan berapa intensitas lampu kilat yang terbaik untuk tiap kondisi pemotretan. Hal ini akan menghindarkan hasil foto yang terlalu gelap atau terlalu terang saat menggunakan lampu kilat, baik saat memotret memakai lampu built-in ataupun eksternal.
Algoritma E-TTL Canon dilakukan berturut-turut yaitu :
  1. Saat tombol rana ditekan setengah, proses auto fokus dan metering (mengukur cahaya sekitar) dilakukan.
  2. Lampu pre-flash akan menyala, pantulannya kembali diukur oleh kamera.
  3. Dari situ kamera menghitung dan membandingkan dua hasil pengukuran sebelumnya.
  4. Saat tombol ditekan penuh, cermin terangkat, shutter membuka dan lampu kilat menyala.
  5. Shutter kembali menutup, cermin kembali turun dan hasil foto tampil di layar LCD.
580ex_ii
Untuk lampu kilat eksternal, Canon juga menggunakan teknologi high speed sync (FP mode) dan wireless mode. FP mode memungkinkan pemakaian lampu kilat eksternal dengan kecepatan shutter diatas kecepatan sync maksimum kamera, dengan cara lampu akan terus menyala dengan interval 50 kHz selama shutter terbuka. Hal ini cocok dipakai untuk melawan backlight meski konsekuensinya dapat menguras baterai lampu kilat. Wireless mode memungkinkan pengaturan beberapa lampu kilat sekaligus secara nirkabel, dengan satu commander dan beberapa slave. Komunikasi antara sistem lampu kilat memakai gelombang Radio Frequency (RF).
Produk lampu kilat terbaru yang pasti kompatibel dengan kamera EOS digital diantaranya :
  • Speedlite 580EX II (4 baterai AA - GN 58)
  • Speedlite 430EX II (4 baterai AA - GN 43)
  • Speedlite 270EX (2 baterai AA - GN 27)
Segmentasi produk
Kamera DSLR Canon EOS terkenal akan segmentasi produk (diversifikasi) yang jelas. Secara umum EOS Digital terbagi tiga kelompok yaitu kamera kelas pemula (juga diberi nama Digital Rebel), kelas menengah dan kelas pro.
EOS kelas pemula :
canon_eos550dInilah EOS yang biasa diincar oleh para pemula, untuk dokumentasi keluarga atau untuk sekedar menyalurkan hobi. Kamera EOS pemula ini berukuran kecil, berbahan plastik, memakai pentamirror untuk prismanya, tidak memiliki LCD di bagian atas, minim tombol dan kinerja burst yang pas-pasan.
Saat ini di pasaran ada tiga produk EOS Digital di kelas pemula yaitu :
  • EOS 1000D (10 MP, live view)
  • EOS 500D (15 MP, HD movie)
  • EOS 550D (18 MP, HD movie)
EOS kelas menengah :
canon_eos5dmkiiInilah EOS untuk para fotografer serius yang lebih dari sekedar hobi atau untuk mendukung profesimya. Kamera EOS kelas menengah punya bodi yang lebih kokoh (bisa fiber atau magnesium), sudah memakai pentaprism untuk prismanya, dilengkapi bermacam tombol akses langsung dan layar LCD tambahan di bagian atas. Fitur kamera kelas ini pun semakin lengkap dan punya ergonomi yang lebih nyaman.
Pilihan produk EOS di kelas ini adalah :
  • EOS 60D (18 MP, HD movie dengan layar LCD lipat)
  • EOS 7D (18 MP, HD movie, inilah kamera EOS tercanggih di kelompok sensor APS-C, sekaligus pengganti EOS 50D)
  • EOS 5D mark II (sensor full-frame 21 MP, HD movie)
EOS kelas pro :
canon_eos1dmkivInilah EOS untuk fotografer profesional yang berkecimpung di dunia bisnis fotografi seperti studio, produksi iklan maupun jurnalis olahraga. Kemera EOS kelas pro ini punya bodi yang besar (sehingga tidak perlu lagi memasang vertical grip), kinerja tertinggi, titik AF yang berlimpah (45 titik)  dan punya sensor besar.
Dua produk elit Canon di kelas ini yaitu :
  • EOS 1D mark IV (sensor APS-H 16 MP, HD movie)
  • EOS 1Ds mark III (sensor full-frame 21 MP)